Orang tua Joglo. Foto oleh Nanik

Joglo, Rumah Damai Pati – Pertemuan dua bulanan Joglo Parenting kembali digelar dalam suasana hangat yang penuh refleksi mendalam. Sesi ini mengajak para orang tua untuk membaca dan merenungkan kisah nyata dari seri “Power of Goodness” (PoG) berjudul “Bata.”

Kisah Brick menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang awalnya merasa tidak berguna. Namun, melalui afirmasi positif dari gurunya, ia menemukan tekad baru dan tumbuh menjadi seseorang yang menginspirasi banyak orang. Kisah ini menjadi cermin bagi kita semua: kisah ini menunjukkan bagaimana satu pernyataan yang penuh keyakinan dari orang dewasa dapat mengubah jalan hidup seorang anak.

Refleksi Kelompok

Para peserta diundang untuk merenungkan dua pertanyaan:
-Apa yang memotivasi Brick untuk belajar dan membantu orang-orang di sekitarnya?
-Apa yang dilakukan orang lain yang membuat Anda semakin bertekad untuk terus belajar dan membantu orang-orang di sekitar Anda?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka pintu bagi refleksi pribadi, di mana para orang tua menyadari betapa pentingnya afirmasi, dukungan, dan keteladanan dalam membentuk semangat anak-anak mereka.

Pendekatan Konseling Re-evaluasi

Refleksi menjadi jauh lebih emosional ketika dipadukan dengan pendekatan Re-evaluation Counseling. Dalam pendekatan ini, para peserta memilih pasangan yang paling membuat mereka nyaman, lalu bergiliran berbagi kisah tentang luka masa kecil mereka, emosi yang masih terasa hingga kini, atau perasaan mereka sebagai orang tua yang kadang merasa telah gagal dalam mengasuh anak-anak.
Melalui proses ini, para orang tua belajar melepaskan emosi mereka, membiarkannya keluar, dan tidak membiarkannya tertahan di dalam tubuh. Suasananya menjadi sangat menyentuh dan juga terasa hangat, karena setiap kisah bukan hanya tentang rasa sakit, tetapi juga tentang keberanian untuk bangkit dan menemukan kekuatan baru.

Agenda

Rapat berlangsung sesuai dengan agenda berikut:
Sambutan, doa sejenak menurut kepercayaan masing-masing, jeda singkat untuk melepaskan ketegangan, perkenalan, peninjauan Kesepakatan, pembacaan cerita "Brick," diskusi kelompok, grounding, latihan kursi kosong, refleksi, dan penutup.

Kumpulan refleksi kami

Pertemuan ini membuat kami menyadari bahwa pengasuhan bukan hanya tentang strategi pendidikan, tetapi juga tentang memiliki keberanian untuk menghadapi emosi dan melakukan refleksi diri.
Kisah Brick mengajarkan kita bahwa afirmasi positif dapat membangkitkan semangat seorang anak. Berbagi dan meluapkan emosi membantu kita, sebagai orang tua, menemukan kembali kekuatan untuk membimbing dengan hati.

Mengafirmasi seorang anak atau siapa pun harus diungkapkan dengan kata-kata, bukan hanya disimpan di dalam hati.
Kata-kata kasar dan menyakitkan membuat hati kita perih; kata-kata lembut dan penuh kasih dapat membuat mata kita berair. Keduanya memiliki kekuatan. Kata-kata kasar memiliki kekuatan untuk menghancurkan, tetapi kata-kata lembut memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali dan membangun kembali. Mana yang akan kita pilih untuk digunakan?

Pertemuan itu ditutup dengan kesadaran bersama: tindakan kebaikan kecil dapat menumbuhkan kekuatan besar, baik bagi anak-anak maupun orang tua.

Berbagi dalam kelompok kecil. Foto oleh Nanik

Membaca kisah “Brick”. Foto oleh Nanik