Ahmad SM di Summer School, 3-10 Juli 2023 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta. Foto oleh panitia.

Saya Ahmad SM, seorang aktivis gerakan sosial dan perdamaian yang lahir dan besar di Parepare, sebuah kota pesisir kecil di Sulawesi Selatan. Sebagai orang Bugis, akar budaya saya telah membentuk cara saya memandang dunia – sangat memengaruhi nilai-nilai saya, cara hidup saya, dan bagaimana saya berhubungan dengan orang lain.

Sejak 2012, saya berdomisili di Yogyakarta, tempat saya menghabiskan lebih dari satu dekade bekerja bersama anak muda dalam isu-isu yang dekat dengan hati saya: keadilan sosial, hak asasi manusia, demokrasi, dan dialog antaragama. Saya menempuh studi Teologi Islam, dengan fokus pada Studi Al-Qur’an, di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Selanjutnya, saya meraih gelar magister dalam bidang Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana – sebuah pengalaman yang menjadikan saya Muslim pertama yang menempuh studi teologi di institusi Protestan tersebut. Jalan ini mengajari saya bahwa perjumpaan bukan sekadar momen – melainkan sebuah cara hidup.

Datang ke Yogyakarta membuka mata saya terhadap kekayaan keberagaman manusia. Tempat itu menjadi semacam ziarah bagi saya—sebuah tempat di mana saya bertemu orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat dan memperdalam komitmen saya terhadap pembangunan perdamaian. Saya telah bekerja dalam advokasi bagi korban pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dan telah menjadi relawan dalam berbagai upaya kemanusiaan. Saya selalu berusaha membawa nilai-nilai tanpa kekerasan dan perdamaian ke dalam ruang-ruang ini, terutama bersama kaum muda.

Motivasi saya sangat personal. Saya tumbuh dalam keluarga di mana keberagaman menjadi sumber ketegangan, dan di mana kekerasan dalam rumah tangga hadir. Pengalaman-pengalaman awal ini meninggalkan bekas pada diri saya, tetapi juga memicu sesuatu yang lebih mendalam: keinginan untuk memutus siklus bahaya dan menciptakan sesuatu yang lebih baik. Saya percaya rasa sakit yang kita warisi tidak harus diteruskan. Melalui penyembuhan, keberanian, dan harapan, kita dapat membentuk masa depan yang berbeda – yang berakar pada keadilan dan empati.

Selama bertahun-tahun, saya juga bekerja sebagai konsultan, fasilitator, dan pembicara – berbagi ruang dengan mahasiswa, komunitas iman, organisasi masyarakat sipil, dan bahkan dalam diskusi kebijakan. Di luar itu, saya menemukan kegembiraan dalam membaca, menulis, menonton film, minum kopi, dan mendalami penelitian – terutama seputar topik seperti filsafat, teologi, budaya, ekologi, kewarganegaraan, dan demokrasi.

Bagi saya, iman bukan sekadar doktrin – itu adalah perjalanan panjang yang terus berkembang melalui ketenangan dan kekacauan dalam mencari makna, keadilan, dan cinta yang memberi ruang bagi semua orang. Dialog bukan sekadar metode untuk berdiskusi – itu adalah cara hidup: mendengarkan mereka yang dibungkam, melihat mereka yang terlupakan, dan berbicara dengan keberanian dan kepedulian. Saya percaya kemanusiaan bukan sekadar gagasan, melainkan pengalaman yang dihayati, yang harus dilindungi, dipupuk, dan dipertahankan.

Pada tahun 2024, saya mulai secara aktif terlibat dengan Friends Peace Teams–Asia West Pacific, dengan mengikuti Cultures of Justice & Peace serta pelatihan Basic, Advanced, dan Justice and Peace Facilitators dari Alternatives to Violence Project (AVP). Nilai-nilai yang saya temui di sini sangat selaras dengan apa yang selalu saya yakini – bahwa perdamaian yang berkelanjutan dan keadilan yang transformatif harus tumbuh dari luka, pengalaman, dan harapan bersama kita.

Waktu saya di Peace Place Pati sungguh membuat saya rendah hati sekaligus menginspirasi. Itu memperluas dunia saya, dan setiap perjumpaan menjadi pengingat mengapa saya melakukan pekerjaan ini. Di Peace Place, saya merangkul keyakinan sederhana namun kuat bahwa "Perdamaian Itu Mungkin." Pesan itu membimbing saya dalam segala hal yang saya lakukan.

Saya juga suka bepergian—itu memenuhi rasa ingin tahu saya dan membantu saya belajar dari berbagai budaya, sejarah, dan tentu saja, tradisi kuliner. Setiap perjalanan mengingatkan saya betapa banyak hal yang bisa ditemukan, dan betapa banyak yang bisa kita bagikan ketika kita bertemu satu sama lain dengan hati yang terbuka.
Juni 2026

Ahmad SM dalam sesi penyegaran dalam Pelatihan Dasar–Lanjutan Proyek Alternatif Kekerasan Budaya Keadilan & Perdamaian, 21-29 Februari 2024 di Peace Plate Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Foto oleh: Nanik.

Mengikuti Aksi Kamisan di Tugu Yogyakarta.
Kamisan adalah aksi damai yang berlangsung setiap hari Kamis. Aksi protes ini mempertemukan orang-orang yang terkait dengan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia, termasuk kejahatan massal 1965-1966, penghilangan paksa aktivis HAM 1997-1998, dan kasus-kasus terkini seperti pembunuhan aktivis Munir Said Thalib pada 2004. Tulisan pada plakat berbunyi, "Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, engkau adalah kawanku."