Foto bersama setelah rapat awal tahun. Berbagi kekuatan dan cara mendukung anak di rumah, serta membahas agenda untuk tahun mendatang.

Pada awal tahun akademik 2025–2026, keluarga Joglo mengadakan pertemuan untuk membahas rencana tahun mendatang. Sekitar 35 orang hadir dalam suasana yang hangat.

Acara dimulai dengan doa menurut agama dan keyakinan masing-masing, dilanjutkan dengan perkenalan. Untuk menciptakan suasana yang lebih akrab, semua diminta berdiri dan mencari teman baru yang ingin mereka kenal lebih dekat. Mereka memperkenalkan diri dengan nama, mendeskripsikan diri dengan sebuah kata sifat, dan membagikan kekuatan positif yang mereka miliki. Semua orang bergerak, berkenalan, dan akhirnya duduk kembali membentuk lingkaran besar. Satu per satu, mereka memperkenalkan diri sambil disambut serentak dengan “Hai…” oleh semua peserta sambil menyebutkan kata sifat positif mereka.

Tawa memenuhi ruangan. Ada rasa bangga, tidak percaya, dan kagum ketika semua orang menyebutkan kata sifat mereka. Perasaan campur aduk ini membuat suasana semakin hangat dan antusias. Setelah perkenalan, kami memulai diskusi santai dan akrab tentang program untuk tahun mendatang, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Agatha, salah satu orang tua yang juga Ketua Asosiasi Joglo, menyampaikan keinginannya untuk berbagi pengalaman dengan sesama orang tua lagi, serta mempraktikkan Membangun Budaya Keadilan dan Perdamaian, seperti yang telah dilakukan pada angkatan sebelumnya. Usulan ini disambut baik, dan disepakati bahwa pelatihan akan diadakan setiap akhir pekan mulai Agustus 2025.

Kebersamaan terasa begitu berharga, terutama di tengah kesibukan jadwal setiap orang. Selain para ibu, kakek-nenek dan pengasuh juga hadir, menemani anak-anak karena orang tua mereka sedang bekerja. Pertemuan itu diakhiri dengan semua orang membagikan satu kata baik untuk hari itu. Namun, beberapa orang tua memilih tinggal sedikit lebih lama, berbagi cerita, menenangkan diri, dan mengatur emosi mereka melalui percakapan.

Pertemuan ini meningkatkan kesadaran bahwa banyak anak tumbuh dalam asuhan kakek-nenek atau pengasuh. Waktu yang dihabiskan bersama orang tua sering sangat terbatas, karena kedua orang tua kelelahan. Sering kali, orang tua tidak memiliki waktu untuk mempelajari cara terbaik mendukung anak-anak mereka. Pola ini terus berulang, menghadirkan tantangan unik bagi Joglo.

Di sinilah Joglo berperan: mendorong semua pihak untuk menyadari bahwa perdamaian sebenarnya sudah ada—di dalam diri kita, di antara kita, dan bersama kita. Pada kenyataannya, kekerasan masih kadang terjadi, bahkan di ruang kelas yang seharusnya aman. Keterlambatan perkembangan, perbedaan pengalaman hidup, dan trauma yang dialami anak-anak sering kali memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan teman sebaya, serta cara orang tua menanggapi perilaku anak-anak mereka. Ini adalah keprihatinan bersama yang memotivasi kita untuk bangkit dan menyembuhkan.

Joglo terus mengambil langkah-langkah kecil, membangun jembatan pemulihan antara manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan alam. Melalui pendidikan inklusif, nilai-nilai permakultur, dan pendekatan yang menghormati keberagaman serta budaya lokal, semuanya dimulai di ruang sederhana: ruang kelas anak usia dini.

Pendidikan orang tua juga dilakukan dengan cara orang tua saling mendengarkan keprihatinan satu sama lain, mengakui kekuatan mereka, mengenali luka masa lalu, dan membuka jalan untuk penyembuhan. Demi anak dan cucu mereka, mereka berkomitmen untuk membangun ruang yang aman, saling menghormati, dan terus belajar membangun budaya keadilan dan perdamaian yang dimulai dari diri mereka sendiri.

Pertemuan itu diakhiri dengan sebuah kesepakatan: setiap orang akan mengambil satu poin sederhana untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dan dengan anak-anak serta keluarga mereka. Komitmen ini sungguh tepat!

Rapat awal tahun: Agatha, yang duduk di paling kanan, mengusulkan penyelenggaraan pelatihan CCJP bagi para orang tua sebagai fondasi bagi orang tua untuk mendampingi anak-anak dan keluarga mereka.