Temui Ani, Guru PAUD Tunas Baru
Ani adalah salah satu guru PAUD Tunas Baru, Barak Induk, Langkat, Sumatera Utara. Dengan dukungan beasiswa FPT, Ani telah menyelesaikan gelar sarjana pendidikan anak usia dini di UT pada tahun 2017. Ia mengatakan "sepertinya mustahil dengan latar belakang saya, tetapi kenyataannya berhasil".
Menurut kesaksiannya, hidupnya berubah ketika ia mengenal Nadine dan teman-teman di Tunas Baru. Ia mengakui bahwa pengetahuan yang diperoleh dari Nadine sangat erat kaitannya dengan hidupnya dan bahkan hingga saat ini ia mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-harinya kepada keluarganya dan anak-anak Tunas Baru
Ani adalah anak kedua dari empat bersaudara. Karena konflik di Aceh menyebabkan orang tuanya mengungsi ke Stabat ke tempat orang tua mereka.
Alhasil, Ani hanya bisa bersekolah di SMA selama 6 bulan di kelas 2 pada tahun 1999 – 2000, karena ia harus mengikuti tetangganya, Stabat pergi bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan di Malaysia.
Yang selalu diingat tetangganya di Stabat setelah pulang dari Malaysia adalah bahwa sebagian dari mereka mempertanyakan mengapa anak putus sekolah bisa kuliah. Tantangan ini tidak membuat Ani menyerah, bahkan Irwansyah, suami Ani, setia mendampinginya kuliah yang juga sedang hamil hingga melahirkan dan merawat bayi sampai perkuliahan selesai.
Buktinya benar, seiring waktu beberapa tetangganya di Stabat memintanya menjadi guru PAUD di sana. Namun hal itu tidak mungkin karena Ani merasa lahir dan dibesarkan oleh masyarakat Tunas Baru.
Kegiatannya adalah dari Senin sampai Jumat pukul 6:45 hingga 12 membantu anak-anak di Tunas Baru. Pada sore hari, melakukan beberapa kegiatan dengan keluarga. Pada hari Sabtu dan Minggu Ani pergi "Membelah" getah karet untuk menopang ekonomi keluarga.
Ani memiliki lahan seluas 15 rante atau sekitar 6.000 m2. Semua ini dilakukan sebagai rasa syukur atas berkah dari Tuhan, katanya.
Yang selalu diingat tetangganya di Stabat setelah pulang dari Malaysia adalah bahwa sebagian dari mereka mempertanyakan mengapa anak putus sekolah bisa kuliah. Tantangan ini tidak membuat Ani menyerah, bahkan Irwansyah, suami Ani dengan setia menemani Ani kuliah yang juga sedang hamil hingga melahirkan dan mengasuh bayi sampai perkuliahan selesai.
Kebenarannya benar, seiring waktu beberapa tetangganya di Stabat memintanya menjadi guru anak usia dini di sana. Tetapi hal ini tidak mungkin karena Ani merasa lahir dan dibesarkan oleh masyarakat Tunas Baru.
Kegiatannya adalah dari hari Senin sampai Jumat pukul 6:45 hingga 12 membantu Anak-anak di Tunas Baru. Pada sore hari, melakukan beberapa kegiatan bersama keluarga. Pada hari Sabtu dan Minggu Ani pergi “Membelah” getah karet untuk menopang ekonomi keluarga.
Ani memiliki lahan seluas 15 rante atau sekitar 6.000 m2. Semua ini dilakukan sebagai rasa syukur atas berkah Tuhan, katanya.
Dalam pelatihan membangun tim AVP dan Power of Goodness pada 31 Agustus – 5 September 2018 untuk Guru Tunas Baru, dalam berbagi ia mengatakan bahwa melatih diri untuk berbicara tanpa takut salah, melatih diri untuk melaksanakan kesepakatan mampu memberikan motivasi dan keberanian Ani bergabung di dunia Pendidikan melalui Pendidikan Anak Usia Dini.
Di akhir sesi, Ani menyampaikan harapan, “Mari kita melatih diri kita untuk berubah di masa depan, dan terus berjuang untuk apa yang telah kita rintis dan jalani selama ini. Dan terima kasih kepada semua orang yang telah membantu Ani selama ini. Ditulis oleh Petrus, September 2018.
"Tak sepatah kata pun lelah untuk memperjuangkan takdir hidup bersama"
Barak Induk, September 2018.
Darmo dan Mislan adalah dua pengungsi konflik Aceh yang tinggal di Barak Induk di Desa Aman Damai, Kecamatan Sei Lepan, Langkat, Sumatra Utara. Sejak tahun 2000 hingga sekarang, mereka dan warga Barak Induk telah berupaya mendapatkan hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia.
Darmo dan Mislan, 5 September 2018. Fotografer Petrus.
Demi kelancaran akses jalan bagi masyarakat, mereka bergotong royong membangunnya. Bahkan agar anak dan cucu mereka dapat mengakses pendidikan, mereka juga secara mandiri mendirikan sekolah sendiri mulai dari PAUD, Sekolah Dasar, hingga MTS. Sementara untuk SMA mereka harus pergi ke Brandan atau Stabat yang memakan waktu 1,5 – 2 jam dengan sepeda motor.
Hingga kini mereka terus memperjuangkan status kepemilikan atas tanah permukiman dan pertanian mereka, karena belum ada pengakuan resmi dari pemerintah Indonesia.
Sebenarnya pemerintah telah berjanji menyelesaikan status lahan melalui program TORA yang merupakan salah satu kebijakan pemerintah Jokowi. Namun pemerintahan Jokowi sudah berjalan empat tahun, dan program ini belum terwujud.
Bahkan untuk mendapatkan akses penerangan listrik, tiang-tiang tersebut dikirim pada 8 Januari 2018 secara tiba-tiba pada 5 September 2018, 45 tiang listrik yang telah didistribusikan diambil oleh kontraktor karena proyek tersebut dibatalkan. Hingga kini masyarakat tidak pernah mengetahui alasan pembatalan tersebut dan hanya mengetahui dari kontraktor yang menunjukkan surat pembatalan.
Mereka tidak pernah mengatakan lelah untuk berjuang. Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk menunjukkan bahwa mereka ada dan juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia yang berhak memiliki permukiman dan lahan pertanian untuk hidup di bumi ini. Pada tahun 2010 mereka berhasil memperoleh pengakuan sebagai penduduk di wilayah Langkat dengan diterbitkannya Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk Kabupaten Langkat.
Melalui Pendidikan Anak Usia Dini Tunas Baru, saat ini keberadaan Barak Induk sangat dikenal di lingkungan Pendidikan di kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bahkan Mislan telah dipercaya oleh HIMPAUDI Langkat, untuk menjadi Dewan Pengawas Himpaudi Langkat. Dan pada periode sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Ketua Himpaudi Langkat.
Saat ini Darmo telah memilih jalur Politik sebagai sarana perjuangan dengan mendaftarkan diri sebagai calon anggota Legislatif Kabupaten Langkat pada pemilu 2019. Dalam pertemuan pada 5 September Darmo mengatakan bahwa ia setuju untuk diregenerasi dan berbagi peran dalam kepemimpinan lokal di Barak Induk.
———————————————–
1 TORA: Objek Tanah Reforma Agraria, adalah program pemerintah dengan tujuan memberikan kepastian hukum atas penguasaan tanah yang sekaligus bertujuan untuk menyelesaikan sengketa dan konflik pertanahan di kawasan hutan.
2 HIMPAUDI adalah organisasi profesi independen yang mewadahi Guru Pendidikan Anak Usia Dini.
Ani sedang "membelah" lateks karet di area kebun karetnya sendiri di belakang rumahnya. Barak Induk, Sabtu 1 September 2018. Fotografer: Petrus.
Ani sedang mengikuti pelatihan untuk membangun Tim AVP di Tunas Baru. Barak Induk, 2 September 2018. Fotografer: Petrus.
