Oleh Dorthea Rumere, diterjemahkan oleh Nanik.
Thea dalam Pelatihan Internasional Menciptakan Budaya Damai 2019 di Pati, Jawa Tengah, Indonesia
Halo, nama saya Dorthea Rumere, tetapi saya dipanggil Thea. Rory memperkenalkan saya kepada Alternatives to Violence Project (AVP) pada akhir tahun 2017. Dia adalah kolega saya di Institute for Assessment and Strengthening Papua’s Capacity. Rory mengatakan materi yang diberikan sangat praktis, bukan sekadar teori melainkan cara untuk memberdayakan diri, belajar dan berlatih. Materi itu juga cocok untuk Papua dan komunitas Gereja, jadi saya sangat penasaran.
Kami bekerja untuk Pencegahan kekerasan berbasis gender melalui USAID BERSAMA di desa kami, Yoboi dan Kehiran 1, di Distrik Sentani. Desa Kehiran 1 terletak di daratan, sedangkan Desa Yoboi terletak di Danau Sentani. Semua bangunan, seperti rumah, sekolah, gereja, kantor desa, perpustakaan dan lapangan bola voli, dikelilingi seperti panggung yang dikelilingi oleh hutan sagu alami. Program diskusi yang berfokus pada perempuan, laki-laki dan pemuda ini telah berjalan lebih dari satu tahun, sejak Agustus 2017.
Pada November 2017, Rory memberi tahu saya bahwa kami akan mengikuti pelatihan di Peace Place di Pati, Januari 2018. Saya tidak tahu akan seperti apa dan tidak pernah membayangkan saya akan berpartisipasi dua tahun berturut-turut! Ketika tiba waktunya untuk berangkat pada 10 Januari, saya sangat bersemangat, meskipun saya sedang pulih dari operasi kista pada 1 Desember 2017. Kami naik penerbangan Garuda selama lima jam ke Bandara Soekarno Hatta di Jakarta, di mana kami menunggu beberapa jam untuk terbang ke Semarang.
Studi Kitab Suci tentang Membangun Budaya Damai di Gereja, Maret 2018, Foto oleh Rory
Sesampainya di Bandara Ahmad Yani di Semarang, kami dijemput oleh dua orang teman. Mereka menyapa dan memperkenalkan diri dengan ramah. Kami menunggu beberapa saat untuk peserta lainnya. Saya melihat seorang pria dengan ransel mondar-mandir sambil memperhatikan sekelilingnya. Saya menyapanya dan bertanya, “Apakah Anda akan mengikuti pelatihan di Peace Place?” Ternyata, benar! Namanya Matthew dari Australia. Kami duduk dan bercerita sambil makan bakso dan mi.
Tak lama kemudian, saya bertemu tiga peserta lain–Joan, Marisol, dan Jungjoo. (Saya memanggilnya "Chong Ju" agar lebih mudah diingat.) Beberapa saat kemudian Rosie datang dari Selandia Baru, lengkap. Matthew dan ketiga orang Korea itu naik satu mobil. Rory, Rosie, dan saya naik mobil yang lain. Kami meninggalkan bandara menuju Peace Place.
Kami memasuki kota Pati pada malam hari. Rupanya, saya tertidur. Mobil itu berbelok ke jalan dengan jembatan dan tak lama kemudian masuk ke halaman depan Peace Place. Karena saya duduk di depan, saya melihat orang-orang duduk di halaman depan menikmati buah sambil berbicara. Rupanya, mereka baru saja makan malam.
Thea bergabung dengan peserta lain dalam Konferensi Meja Bundar tentang perdamaian Antarpenganut Iman di Pati, Jawa Tengah
Itu adalah kesan pertama saya, pengalaman yang tak terlupakan. Seorang wanita berdiri dan langsung menyapa saya. Dia memanggil nama saya dan memeluk saya. Itu Nadine. Dari sapaanannya, saya merasa seolah-olah kami pernah bertemu sebelumnya atau bahkan sudah saling mengenal. Ini sungguh menakjubkan!!! Itu adalah pelajaran pertama dari Nadine untuk saya. Setelah menikmati makan malam dan mendengar beberapa arahan dari tim pelatihan, kami diantar ke TK Bintang Kecil untuk beristirahat.
Pengalaman kedua saya adalah ketika Wiwid, Bungu, dan beberapa teman hebat di TK Bintang Kecil membantu dan merawat saya. Mereka menyiapkan air panas untuk mandi setiap pagi dan malam. Saya selalu mengingatnya hingga hari ini dan benar-benar merasa bersyukur. Mereka menginspirasi saya untuk juga terus berbuat kebaikan kepada orang lain selama hidup saya. Dalam pelatihan pertama ini, saya belajar banyak dari perilaku yang ditunjukkan oleh semua orang, dan itu sangat menyenangkan.
Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan lagi pada Januari 2019. Terima kasih banyak. Kondisi kesehatan saya jauh lebih baik. Setelah perjalanan panjang yang menyenangkan, Bandara Ahmad Yani Semarang jauh lebih besar. Kami masih menunggu satu peserta lagi dari Australia, seorang perempuan bernama Paula. Paula membagikan Permaculture dalam pelatihan ini. Luar biasa!!
Saya sekarang telah mengikuti pelatihan AVP ini dua kali. Namun, pengalaman yang saya dapatkan sangat berbeda setiap kali. Pada pelatihan pertama, saya mendapatkan banyak cerita berharga dari pengalaman semua orang. Pada pelatihan kedua, ada orang-orang yang sama, tetapi ada juga orang-orang baru dan mereka semua datang dengan pengalaman baru yang semuanya memperkaya saya. Ada begitu banyak pekerjaan baik di dalam diri saya yang harus saya tunjukkan. Seperti yang saya baca dalam Alkitab (Efesus 2:10 "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."). Ini adalah tantangan bagi saya.
2019 Pelatihan Menciptakan Budaya Damai di Pati, Jawa Tengah, Indonesia
Berikut adalah apa yang saya peroleh selama pelatihan:
- Nama saya di lokakarya-lokakarya ini adalah Talanted Thea (pada 2018) dan Thea Tenang, artinya Calm Thea, (pada 2019). Sesuatu yang baru dan sangat menyenangkan. Saya melatih diri saya untuk menghafal semua nama peserta dan berhasil. Terasa begitu banyak kebaikan melalui kata sifat di balik nama-nama itu. Setiap kali kami berbicara, kami menyebut nama afirmasi kami terlebih dahulu. Merasa lebih dekat, lebih mirip, intim, dan penuh cinta memberi kami kekuatan untuk membuat perubahan.
- Kami duduk dengan tenang selama beberapa menit di awal kegiatan. Ini adalah cara baru dan sangat baik bagi saya. Saya mencobanya pada pertemuan pemuda saat Paskah 2018, pada pertemuan-pertemuan di Desa Yoboi dan juga untuk diri saya sendiri. Saya belajar melakukannya setiap pagi sebelum memulai meditasi pagi saya.
- Setiap kata dan kalimat yang diucapkan di akhir setiap sesi dan lokakarya, semuanya menjadi milikku. Saya merasa sangat kaya dengan hal-hal positif dan kebaikan. Saya telah mempraktikkannya dan ingin terus melakukannya dalam hidup setiap hari.
- Memanggil nama dan mengungkapkan perasaan melatih saya untuk berbicara jujur tentang apa yang saya rasakan. Saya belajar untuk melepaskan emosi saya, yang merupakan pengalaman sangat nyata karena berkaitan dengan kehidupan nyata saya setiap hari. Alat ini juga baik untuk dikembangkan di komunitas.
- Saya menyukai aktivitas River of Life. Aku merasa seperti berada di masa kanak-kanak. Aku merasa bangga di masa kini saat berterima kasih kepada masa kecil Thea. Dan merasa tersentuh saat berada di masa depan dan memotivasi Thea sekarang untuk mengambil langkah positif guna mencapai masa depan seperti yang diharapkan. Aku merasa itu ada dalam cerita. Sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Alat ini sungguh menakjubkan dan menguras semua emosi negatifku.
- Saya menyukai aktivitas Positif Sculpture. Kami berbagi kisah-kisah indah yang masih tersimpan dalam ingatan. Melalui alat ini, kami melepaskan kesedihan kami. Ini baru bagi saya dan saya akan mempraktikkannya di komunitas.
- Saya menyukai aktivitas Lingkaran Bisik. Saat mengubah kata negatif yang selalu orang katakan kepada saya menjadi kata positif, itu menyentuh hati. Bisikannya lembut, tak terduga, dan menyentuh pikiran saya. Saya menangis. Ada kekuatan dalam kata-kata itu. Saya telah mencoba alat ini di komunitas perempuan di Gereja. Banyak ibu berbagi perasaan mereka. Seseorang berkata, "Ini seperti suara malaikat. Saya tersentuh dan menangis." Saya juga menggunakannya dengan para remaja di Desa Yoboi. Kata-kata positif memiliki kekuatan. Luar biasa!!!
- Materi baru dalam pelatihan tahun 2019 adalah “Permakultur.” Saya sangat penasaran tentang hal itu. Setiap kali ada kesempatan, saya mencari di Google. Ini menarik untuk dikembangkan di Papua, terutama di lingkungan dan komunitas tempat saya tinggal dan bekerja.
- Sesi Kisah-Kisah Trauma sangat menarik. Saya bertemu banyak remaja, pemuda, dan perempuan dewasa yang mengalami pengalaman kekerasan. Saya juga korban kekerasan dan saya berlatih agar bisa berbagi dengan mereka. Saya belajar melepaskan pengalaman kekerasan saya dengan bercerita, menangis, dan memulihkan kesadaran diri. Ini merupakan pembelajaran yang besar bagi saya sekaligus pendekatan terapeutik yang bisa saya gunakan.
- Saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu, bagi saya semua materi yang diberikan dalam pelatihan ini sangat bermanfaat.
Gerakan Pemuda Membangun Perdamaian di Papua Barat, April 2018. Foto oleh Rory
Komitmen saya setelah mengikuti dua sesi pelatihan ini adalah untuk:
- Terus berlatih apa yang saya dapatkan dalam hidup saya setiap hari dengan prinsip bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin.
- Percayalah pada Kekuatan Transformasi kehidupan yang berdasarkan hati nurani. Setiap orang memilikinya dan setiap orang dapat berubah.
- Kenali diri saya sendiri, baik kelemahan maupun kekuatan saya. Belajar untuk percaya bahwa setiap orang mampu, dan menjadi teman yang baik sekaligus pendengar yang baik, serta ingat bahwa hidup saya bermanfaat bagi orang lain.
- Mulai dari pendidikan. Bersama kelompok lokal kami (LEKAT), saya akan terus menjaga hubungan dengan masyarakat di Kampung Yoboi. Yang akan saya lakukan bersama masyarakat adalah terlibat dalam kelompok anak-anak di Rumah Baca sebulan sekali. Diawali dengan acara AVP Basic dan Power of Goodness.
Dari apa yang saya peroleh, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para sponsor yang telah memberi saya kesempatan untuk mengikuti pelatihan di Place Peace di Pati. Saya sangat berharap dapat terus melakukan sesuatu di Papua. Dimulai dari diri saya sendiri dan lingkungan. Semoga Tuhan Yesus Kristus memberkati Anda. Salam hangat dan cinta dari Jayapura, Papua Indonesia.
