Peace Place Pati, Jawa Tengah, Indonesia

Anak Putus Sekolah Belajar Pertukangan Kayu
Kemiskinan selalu sejalan dengan dunia kekerasan. Pada tahun 1993, sebuah komunitas kecil gereja-gereja Mennonite di desa Gembong mengirim anak-anak putus sekolah untuk belajar pertukangan di Desa Sukodono, Jepara dalam upaya untuk merawat anak-anak yang tidak bersekolah. Tujuannya adalah untuk mengurangi pengangguran dan potensi kekerasan di kalangan remaja.

Ngatmin, seorang remaja berusia 16 tahun yang berani dan bersemangat, secara mandiri mengikuti jejak salah satu perajin magang, yang kebetulan merupakan tetangga dan temannya. Dengan keterampilan dasar yang dimilikinya, Ngatmin tidak mengalami kesulitan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya dalam mengukir serta belajar meningkatkan kualitas keahliannya di Sukodono, Jepara.

Berbekal pengalamannya, pada 2009 Ngatmin pergi bekerja ke Bogor menjadi pengrajin. Di sana ia bertemu para musisi yang juga menggeluti usaha mebel. Dari pertemuan itu, Ngatmin mengembangkan keterampilannya dan menekuni secara khusus pembuatan biola. Pada 2012, ia kembali ke kampung halamannya karena alasan keluarga.

Biola Bambu
Sejak tahun 2000-an, Ngatmin merasa cemas ketika melihat banyak pohon bambu di sekitar desanya ditebang karena mengganggu dan menutupi tanaman kopi. Bambu dianggap oleh masyarakat sebagai tanaman yang tidak berguna karena tidak memiliki nilai jual, padahal akarnya mampu melindungi lereng Muria. Orang-orang di Kampung Jepang hanya mengambil bambu muda untuk dijual ke kota sebagai sayuran, atau bahan untuk membangun rumah, kandang, atau dapur.

Ngatmin membuat biola bambu pertama pada 2012. Tujuannya adalah agar bambu dihargai masyarakat dan tidak ditebang sembarangan. Baginya, bambu berperan besar menjaga lereng Muria agar tidak mudah terkena longsor atau banjir. Bambu juga menghasilkan suara khas yang nyaring sehingga cocok sebagai bahan biola. Ia pun menilai produksi biola bisa memotivasi pemuda desa untuk berinovasi dan membuka lapangan kerja baru. Saat ini, bersama tiga temannya, mereka mampu memproduksi enam biola bambu dalam sebulan.

Sebagai upaya mendukung gerakan pembangunan perdamaian Peace Place Pati, Ngatmin akan menyumbangkan 35% dari setiap penjualan Biola Bambu yang dilakukan oleh Peace Place Pati seharga IDR 3.000.000 atau $214 (2018).

Ngatmin dan Petrus Di bengkel mesin pembuatan biola Jepang, Kudus, Jawa Tengah, Juli 2018. Diambil oleh Tito.

Beberapa jenis biola produksi Ngatmin (Mbah Min), Juli 2018. Fotografer Petrus.