Bokhee dari Frontiers Korea mengunjungi Peace Place Pati

Pada tanggal 13 November 2018, Bokhee atau Sahaja (nama Indonesia) dari Frontiers Korea mengunjungi Peace Place. Ia merasa senang dapat berkunjung setelah perjalanannya dari Palu, Sulawesi Tengah.

Bokhee mengatakan bahwa Peace Place adalah tempat bermain yang nyaman, seperti surga kecil! Bokhee melihat peralatan Joglo Preschool, termasuk Unit Block. Ia sangat tertarik pada cara Peace Place menggunakan Unit Block untuk mendukung perkembangan anak. Nanik dan Petrus menceritakan kepadanya kisah-kisah tentang Unit Block, yang kini diproduksi lagi oleh Peace Place.

Awalnya, Peace Place mengembangkan Unit Block bersama Sukodono Crafts, tetapi produksi berhenti karena masalah serangga. Pembeli mengeluh dan mengembalikan Unit Block karena dimakan serangga. Belajar dari pengalaman ini, para pengrajin melakukan uji coba dengan merebus kayu sebelum digunakan. Selain melanjutkan produksi Unit Block, Peace Place memiliki rencana untuk menyelesaikan buku panduan dan modul pelatihan Unit Block.

Selain bertemu para guru dan melihat perlengkapan anak-anak, Bokhee juga berkesempatan bertemu dengan mantan siswa Joglo bernama Nendra. Nendra belajar di Joglo selama 2 tahun. Saat ini, ia duduk di kelas dua di sekolah dasar setempat. Ia senang bertemu Bokhee dan menceritakan tentang buku yang telah ia baca.

Nendra berasal dari keluarga Muslim. Ibunya memilih Joglo Preschool karena ia memerlukan bantuan khusus akibat disleksia. Awalnya, kakek dan nenek Nendra tidak ingin menyekolahkannya di Joglo karena sekolah itu tidak berbasis Islam.

Bokhee, Nanik, dan Nendra duduk di halaman belakang Peace Place, 13 November 2018. Fotografer Petrus.

Petrus, Erni, Ninok, Bokhee (Sahaja), Evi. Pada 13 November 2018 di Peace Place, Fotografer: Nanik.

Namun Eli, ibunya, menjelaskan kepada keluarga besarnya mengapa Joglo menjadi pilihan sekolah bagi anaknya. Eli menyukai cara para guru dengan ramah menyambut anak-anak dengan senyuman, mendengarkan ketika anak-anak bercerita, dan memberi siswa pilihan dalam beraktivitas. Bahkan ketika Feliz, seorang relawan dari Jerman, menjadi peserta magang di Joglo, Eli menawarkan untuk menjadi tuan rumah baginya dan mengajarinya tentang kehidupan sebuah keluarga Muslim Jawa. Selain itu, Eli juga berharap dengan kehadiran orang asing di keluarganya, keluarga besarnya dapat mempelajari berbagai cara berpikir sehingga mereka lebih terbuka terhadap perbedaan suku, agama, ras, dan budaya. Akibatnya, kakek dan nenek Nendra tidak lagi mempertanyakan sekolahnya. Mereka bahkan menyekolahkan saudara perempuan Nendra, Aisyah, untuk bersekolah di Joglo. Aisyah saat ini berada di tahun kedua di Joglo.