Oleh Yoga Pratama (Bhre), Peserta Pelatihan CCP pada 4 – 6 Maret 2022 (disunting dan diterjemahkan oleh Tito dan Rhaka)

Bhre setelah Pelatihan CCP pada 6 Maret 2022 di Peace Place di Pati, Indonesia

Peace Place Pati adalah tempat untuk menciptakan budaya damai serta berkomitmen memutus rantai kekerasan dan siklus penindasan antargenerasi. Tempat ini terletak sekitar dua jam ke arah timur dari Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah.

Saat tiba, Anda disambut oleh bangunan-bangunan yang merepresentasikan budaya Jawa. Tampak sederhana, dan itulah yang membuatnya nyaman—kesederhanaannya. Kita belajar bahwa kenyamanan dan kebahagiaan yang mendalam tidak berasal dari kemewahan. Dan orang-orangnya tampak ramah. Para pendirinya, Petrus dan Nanik, guru, teman, dan intern berlatih berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik, bahkan dengan orang asing. Itu membuat orang lain merasa nyaman. Kami memiliki pengalaman baru. Kami merasa benar-benar tidak hidup sendiri. Meskipun kami mungkin sedih karena banyak orang yang dekat dengan kami telah meninggal, kami belajar merayakan kehidupan dan orang-orang yang baru kami kenal.

Berdamai dengan diri sendiri berarti tidak menyakiti diri sendiri. Itu berarti mempelajari cara-cara untuk perawatan dan penyembuhan agar Anda dapat menerima apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Demi kedamaian, kita tidak memperkuat sifat-sifat yang merusak kesehatan mental kita. Tapi bukan hanya itu. Ternyata makanan pun diperhitungkan. Di Peace Place, Anda tidak akan pernah merasa lapar, karena ada banyak buah yang bisa Anda petik dan makan. Karena ditanam tanpa bahan kimia, makanannya sehat..

Hal yang paling saya ingat di Peace Place Pati adalah aktivitas para pendengar yang baik. Sebagian besar waktu saya banyak berbicara dan kurang mendengarkan. Saya menyadari ini membuat saya berprasangka. Ini membuat saya merasa seperti manusia paling sial di dunia. Namun, dalam aktivitas ini, saya mendengarkan begitu banyak jenis orang yang berbeda dan menyadari bahwa setiap manusia memiliki masalahnya sendiri, yang tidak kita lihat di permukaan. Saya juga mendengarkan perspektif banyak orang dan menyadari bahwa saya bukan yang paling benar atau paling pintar, tetapi banyak orang memiliki banyak gagasan.

Pada akhirnya, kita harus mampu mendengar, bahkan keluhan atau nasihat. Keluhan dapat menjadi pelajaran. Nasihat dapat menjadi obat. Namun, kita tetap berdiri sendiri, kapten atas hidup kita sendiri. Entah kita bahagia atau sedih, kitalah yang memutuskan.