Refleksi Pelatihan Pemberdayaan Kepemimpinan bagi Pemuda Lintas Iman di Peace Place

Oleh Neneng Hanifah Maryam, mahasiswa psikologi, Universitas Islam Negeri Yogyakarta

Terima kasih kepada tim Peace Place, Petrus, Nanik, Kins, Bungsu dan Wiwit, untuk kesempatan ini, dan juga kepada Ruwaidah karena telah memperkenalkan saya pada pelatihan ini, serta kepada semua rekan yang saya temui di lokakarya ini.

Pelatihan Menciptakan Budaya Damai dimulai dengan Pelatihan Pemberdayaan untuk membangun kehidupan yang damai. Kami bertemu selama lima hari dari 8-12 Juli 2019 di Peace Place Pati. Sesuai namanya, Peace Place benar-benar damai. Berbagai latar belakang, pengalaman, dan agama bersatu di tempat ini tanpa dominasi dari bagian mana pun dari kelompok.

Saya pikir menciptakan kehidupan yang damai dengan keragaman luas yang ada di Indonesia hanyalah omong kosong atau utopia. Tapi lima hari di Pati mengikis asumsi utopis saya tentang perdamaian. Saya optimistis sekarang, karena saya menyadari kita dapat menciptakan budaya damai. Pelatihan dalam menciptakan budaya damai menawarkan langkah-langkah sederhana dan konkret yang dapat kita terapkan. Terlebih lagi, komunikasi yang terjalin di luar pelatihan bukan sekadar formalitas sebagai peserta, melainkan seperti persaudaraan untuk mengajak kita bekerja bersama seiring waktu.

Pelatihan ini memiliki sepuluh sesi, yang masing-masing memiliki tema sendiri dengan sub-kegiatan. Saya akan membagikan refleksi saya di bawah ini tentang beberapa di antaranya. Kenangan yang melekat pada saya adalah betapa antusiasnya teman-teman saya dalam pelatihan ini. Wajah ceria mereka adalah buktinya. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa ‘membangun kehidupan yang damai’ akan terwujud lebih mudah karena banyak orang yang bergabung dengan sadar ingin melakukannya.

Nama-nama Afirmasi. Bagi saya, cara kami melakukannya membuat mudah mengingat nama semua orang dan memberi kesan positif tentang diri saya, yang membangunkan kepercayaan diri saya, sedikit demi sedikit, tetapi segera. Saya memilih Nice Neneng sebagai nama afirmasi saya. Oh, sebenarnya saya malu, tetapi tidak apa-apa! Saya akan bersikap "nice" kepada Anda. Ha ha.

Permainan Selimut. Saya merasa cukup sulit mengingat nama teman-teman saya saat menghadapi kejutan. Saya juga merasa cukup cemas, takut, dan bahkan tertekan bahwa teman di depan saya akan menyebut nama saya lebih dulu. Di sisi lain, akhirnya saya bisa menenangkan diri dan mengingat dengan baik. Saya juga menjadi sadar bahwa seseorang yang saya temui sebelumnya mungkin akan muncul lagi, jadi saya harus tetap mengingat nama mereka dengan tenang. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa dalam keadaan tenang kita memang lebih mampu berpikir dan mengingat.

Perjanjian Kerja Sama. Pada awal kegiatan, sebuah kesepakatan bersama dibuat dan dikonfirmasi. Hal ini membuat kami sepenuhnya menyadari apa yang kami inginkan selama waktu kebersamaan kami, sehingga kami tidak merasa terpaksa melakukan atau menghindari apa pun selama kegiatan. Kesepakatan kolektif juga sangat efektif dalam menyelaraskan tujuan bersama di awal. Ada sejumlah kesepakatan yang terus saya praktikkan, khususnya "berbicara dengan sederhana dan jujur, tanpa takut melakukan kesalahan." Saya pikir berbicara singkat akan mengurangi kredibilitas informasi, tetapi nyatanya hal itu justru memudahkan orang lain untuk memahami. Saya juga masih melatih diri untuk menegaskan kebaikan dalam diri saya dan orang lain, bukan untuk melebih-lebihkan atau meremehkan kebaikan orang lain atau merendahkan siapa pun, melainkan untuk menyampaikan kebajikan kami apa adanya.

Gambar Diri Inti. Kegiatan ini membuat saya menyadari betapa mudahnya melakukan sesuatu ketika seseorang merasa aman, yaitu ketika seseorang benar-benar merasa menjadi dirinya sendiri. Ketika saya merasa aman dan berharga, saya mampu mengoptimalkan dan mengidentifikasi apa yang saya miliki di luar kemampuan saya. Tiga kata baik yang muncul dalam citra hati nurani adalah fondasi ketika saya merasa tidak berdaya.

Kisah-Kisah Kekerasan dan Nonkekerasan. Kegiatan ini membantu saya mengidentifikasi bagaimana kekerasan itu terjadi, serta dampak yang timbul baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Kemudian bijaksana untuk memutuskan jalan apa yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Saya akan menerapkan kegiatan ini dan mendiskusikannya dengan rekan-rekan saya di sekolah, dan para orang tua ketika berinteraksi dengan anak-anak.

Mengubah Kekuatan. Menyampaikan alasan setiap kali memilih salah satu kekuatan perubahan, semakin meyakinkan saya untuk melakukan Kekuatan Transformasi. Terlebih lagi, saya juga merasa lebih percaya diri untuk membagikan pentingnya poin-poin dari kekuatan perubahan dengan menggali alasan setiap orang ketika mereka memilih Kekuatan Transformasi.

Pesan-I dan Empati. Sering kali, saya takjub dengan dua kegiatan ini. Kerangka konkret dari pesan I membuat saya lebih mudah mengidentifikasi masalah yang dialami dengan orang lain terhadap apa yang benar-benar saya butuhkan. Kegiatan ini membuat saya lebih sadar bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Demikian pula dengan kegiatan Empati, saya kadang merasa tahu apa yang dirasakan orang lain dan harus tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Namun setelah mendapatkan materi Empati, saya menyadari bahwa saya harus lebih berhati-hati dalam menanggapi atau merespons masalah orang lain tanpa memberi label atau bahkan saran yang tidak diperlukan. Kemampuan untuk menjadi pendamping yang baik juga sangat terlatih dalam sesi ini, terutama untuk mendengarkan dengan baik.

Komitmen untuk Hidup Damai tanpa Kekerasan. Saya membuat tiga komitmen konkret sebisanya selama pelatihan. Lalu saya berkata, “Saya akan melakukan apa yang telah saya sepakati.”

Mengingat. Kebiasaan mengingat adalah salah satu cara untuk melatih kepekaan saya dalam mengidentifikasi hal-hal. Saya menerapkan aktivitas Mengingat dalam membuat jurnal harian saya. Ada satu aktivitas tambahan pada hari ketiga yang bagi saya berkaitan dengan kesepakatan untuk mempraktikkan menjaga semua orang, masyarakat, dan alam, yaitu Permakultur. Aktivitas ini membuat saya menyadari bahwa semua makhluk termasuk bumi memiliki hak untuk mengalami kelangsungan hidupnya dengan baik, termasuk sampah. Di sini saya juga berlatih bagaimana menggunakan sesuai kebutuhan dan membagikan sisanya secara adil, terutama di alam, salah satunya dengan menggunakan bahan organik dalam kehidupan sehari-hari lalu menyimpan limbahnya untuk dijadikan kompos.

Saya bersyukur mendapatkan informasi mengenai pelatihan ini dari kolega baik saya, Ruwaidah, jauh sebelum saya mengikuti pelatihan pada awal Juli. Karena itu, saya cukup jelas tentang apa yang saya lakukan untuk pelatihan ini. Saya sangat bersyukur ketika pelatihan berlangsung selama lima hari berturut-turut. Pelatihan ini bukan sekadar mengampanyekan pentingnya hidup damai tanpa kekerasan, lebih dari itu memberikan langkah-langkah konkret yang selama ini belum banyak orang peka terhadap cara mewujudkannya. Dan itu adalah bagian dari jawaban atas pertanyaan "Mengapa perdamaian yang kita semua inginkan begitu sulit diciptakan".

Yogyakarta, Juli 2019

Neneng Hanifah Maryam, dari Subang, Jawa Barat. Saat ini saya masih dalam proses menyelesaikan studi Psikologi di Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang juga aktif dalam mendampingi Anak-Anak Komunitas Miskin Kota di Yogyakarta melalui Sekolah Gajahwong.