Patianus memudahkan pembacaan cerita, lokakarya Kekuatan Kebaikan, Panti Asuhan Hosanna Papua
Nama saya Patianus Momiake, juga dikenal sebagai Patianus Penyayang di kalangan teman-teman di Komunitas Relawan Perdamaian Onomi Imea Papua.
Saya adalah anak kedua dalam keluarga dengan empat bersaudara. Sayangnya, tragedi terjadi ketika orang tua kami dibunuh oleh warga di Kampung Paima akibat keadaan di luar kendali kami. Setelah peristiwa yang menghancurkan ini, saya membuat keputusan sulit untuk meninggalkan kampung dan menghentikan pendidikan saya di Jayapura. Ayah saya adalah seorang penginjil, dan ibu saya adalah kepala Kamugu (kelompok masyarakat) di Kampung Paima, Yahukimo.
Saat ini saya berada di semester enam di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan, dengan jurusan Pendidikan Agama Kristen. Syukurlah, saya menerima beasiswa yang memungkinkan saya melanjutkan studi. Meskipun menghadapi kesulitan, keluarga saya menanamkan dalam diri saya semangat dan dedikasi dalam segala hal yang saya lakukan. Oleh karena itu, saya mengambil berbagai pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu membiayai pendidikan adik saya, yang saat ini duduk di kelas dua SMA.
Pada April 2022, saya berkesempatan mengikuti pelatihan daring Creating Cultures of Peace yang ditawarkan oleh Peace Place Pati, Indonesia, berkat undangan dari teman saya, Sint Aidit Tokoro. Pengalaman ini terbukti transformatif karena membawa saya bergabung dengan Tim Relawan Perdamaian Onomi Imea di Papua.
Sebagai anggota tim ini, saya merasa terhormat dan sangat bertanggung jawab untuk membantu individu-individu yang telah mengalami kekerasan dalam hidup mereka. Untuk lebih meningkatkan keterampilan saya, saya menjalani pelatihan dan bertugas sebagai fasilitator tatap muka Power of Goodness dan Creating Cultures of Peace di Panti Asuhan Hosanna Papua Sentani.
Menjadi fasilitator membangkitkan berbagai emosi dalam diri saya, termasuk empati dan kepedulian. Saya berinteraksi dengan individu-individu yang telah mengalami situasi sulit dan traumatis, dan mereka mengikuti pelatihan untuk mencari dukungan dan kesempatan untuk lepas dari lingkaran kekerasan. Menyaksikan keberanian mereka dalam menghadapi kesulitan dan tekad mereka untuk menemukan solusi yang lebih baik menginspirasi saya untuk terus berkembang dan berlatih.
Mendengarkan cerita dan pengalaman mereka itu menantang, tetapi saya telah belajar untuk tetap tenang, penuh kasih, dan penuh perhatian. Setiap peserta memiliki latar belakang dan kebutuhan yang unik, dan saya berusaha menciptakan lingkungan kelompok yang aman dan suportif tempat mereka merasa dihargai, didengar, dan bebas mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi atau ditertawakan. Membangun kepercayaan dan menjaga kerahasiaan adalah aspek penting dari peran saya.
Saya bersyukur bahwa mempraktikkan non-kekerasan telah memainkan peran penting dalam perjalanan penyembuhan saya sendiri. Hal itu telah membantu saya memunculkan yang terbaik dalam diri saya dan orang lain, serta menumbuhkan hubungan yang sehat. Selain itu, hal itu telah memberdayakan saya untuk mengendalikan emosi saya dan mengatasi trauma yang saya alami. Saya terus mempraktikkannya dan beruntung menerima dukungan dari teman-teman di komunitas.
