Anvita (berbaju merah) dalam sebuah pertemuan AVP

Tahun lalu, ketika saya bepergian ke Pati, Indonesia untuk Pelatihan Keadilan dan Perdamaian Regional, saya mengharapkan pengalaman yang bermakna. Mungkin beberapa alat praktis, mungkin beberapa koneksi yang berharga. Setelah menghabiskan lebih dari satu dekade dalam pendidikan perdamaian – mengadvokasi keadilan lingkungan, memfasilitasi lokakarya AVP, dan memimpin dialog antarbudaya di India, Selandia Baru, dan Australia. Saya percaya saya sudah membangun fondasi yang kokoh.

Namun apa yang saya alami di Pati jauh melampaui pelatihan. Itu adalah pergeseran yang mendalam — sebuah transformasi yang tenang dan mantap, perubahan dalam cara saya menyediakan ruang, berhubungan dengan orang lain, dan memahami apa arti sebenarnya membangun perdamaian. Saya tidak hanya kembali dengan keterampilan baru. Saya kembali dengan cara baru untuk menjadi, yang terus merambat ke segala hal yang saya lakukan di rumah di Australia.

Pelatihan itu berlangsung di Peace Place di Pati. Tempat itu menjadi rumah bagi Nanik dan Petrus, pasangan Kristen yang tinggal dan bekerja di komunitas yang mayoritas Muslim. Menjalani lingkungan yang begitu sensitif dengan penuh keanggunan dan kerendahan hati, hidup mereka adalah upaya perdamaian dalam tindakan. Bukan melalui pernyataan besar atau teori, melainkan dalam momen-momen kecil sehari-hari, dalam cara mereka berinteraksi, mengelola sekolah Joglo, dan secara konsisten hadir dengan kebaikan serta integritas. Melalui tindakan-tindakan sederhana dan penuh pertimbangan ini, mereka telah membangun kepercayaan yang mendalam dan hubungan yang langgeng, unsur penting bagi perdamaian. Sekadar menyaksikan mereka mengingatkan saya bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang diajarkan atau diberikan; perdamaian adalah sesuatu yang secara aktif dipilih dan dihidupi, dari momen ke momen.

Etos itu bergema di setiap bagian pelatihan. Pelatihan itu membumi, peka secara budaya, dan sangat disengaja. Salah satu pelajaran berharga bagi saya adalah bagaimana bahasa dapat membangun jembatan atau justru memperkuat eksklusi. Pergeseran sederhana seperti menggunakan “kesepakatan komunitas” alih-alih “lingkaran aman” atau mengganti “memusatkan diri” dengan “berhenti”, membuat ruang menjadi lebih inklusif dan ramah. Sejak kembali, saya menjadi lebih sengaja dalam menggunakan bahasa, terutama saat bekerja di lingkungan yang beragam.

Praktik lain yang melekat pada saya adalah mendengarkan dengan empati. AVP memang sudah menekankan mendengarkan secara aktif, tetapi mendengarkan dengan empati menantang saya untuk mempertimbangkan kembali naluri yang dimiliki banyak dari kita — dorongan untuk memperbaiki, membantu, atau menawarkan solusi. Dorongan itu berasal dari niat baik untuk meringankan penderitaan, menjembatani kesenjangan, dan menciptakan pemahaman. Namun, bahkan dengan niat baik, 'mentalitas penyelamat' dapat melemahkan orang lain. Pembangunan perdamaian sejati terletak pada sekadar menyaksikan orang tersebut, menawarkan kehadiran alih-alih solusi, dan menghormati orang sebagai ahli atas pengalaman mereka sendiri.

Pada saat yang sama, saya belajar bahwa komunikasi adalah ruang bersama, dan ada keseimbangan yang halus antara menjadi pembicara yang ekspresif, pendengar yang penuh kasih, pengamat yang diam, dan pendamping yang suportif. Keseimbangan ini sangat penting terutama dalam lingkungan multikultural atau yang sarat dengan emosi.

Fasilitator juga sangat peka terhadap dinamika tersirat yang terjadi dalam ruang kelompok. Dominasi dapat muncul bukan hanya melalui suara yang lantang, tetapi juga melalui kefasihan berbahasa, sifat ekstrover, atau kecenderungan naluriah untuk menjadi penyelamat. Dalam kelompok yang beragam, pola-pola ini dapat secara diam-diam melemahkan pihak lain. Melihat para fasilitator merespons dengan kepedulian dan kerendahan hati memberi saya cara-cara praktis untuk menyeimbangkan kekuasaan, menegaskan suara-suara yang tenang, dan mengundang partisipasi yang lebih penuh di tengah perbedaan.

Bagi saya, seluruh pengalaman itu menegaskan kembali pentingnya memperlambat langkah, menyelaraskan diri dengan apa yang terucap atau tak terucap, dan membaca suasana dengan kepekaan serta kehadiran penuh. Ini adalah sesuatu yang kini saya bawa secara sadar ke dalam pekerjaan saya di Australia – tempat keberagaman selalu hadir tetapi tidak otomatis mengarah pada koneksi atau inklusi. Bahkan, seperti yang dicatat sosiolog Robert Putnam, peningkatan keberagaman kadang-kadang dapat memberikan efek sebaliknya, membuat orang "menutup diri" dan menarik diri. Saya telah melihat hal ini dalam ruang-ruang kelompok di mana orang-orang dari latar belakang budaya atau agama yang berbeda ragu untuk berbicara, tidak yakin apakah mereka akan didengar atau dihargai.

Itulah sebabnya saya diingatkan dengan begitu jelas bahwa inklusi dan perdamaian bukanlah hasil yang pasif, melainkan praktik yang aktif dan berkelanjutan. Keduanya menuntut kita untuk hadir dengan kesadaran, kepekaan, dan niat. Pengalaman di Pati tidak hanya memberi saya alat—tetapi juga memberi saya pola pikir, yang membantu menciptakan ruang di mana semua suara merasa dilihat, dihargai, dan aman.

Jika Anda mempertimbangkan pelatihan tahun ini di Pati, saya sangat mendorong Anda untuk pergi. Bawalah keterbukaan Anda. Bersiaplah untuk mendengarkan, meninggalkan cara lama, belajar kembali, dan bertumbuh. Anda akan kembali bukan hanya dengan alat-alat praktis, tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman hidup tentang seperti apa perdamaian itu, dan inspirasi untuk membawanya ke komunitas Anda sendiri.