Orang tua dan anak-anak berpose untuk foto di pertemuan orang tua Joglo. Foto oleh Tito
Membangun budaya keadilan dan perdamaian bukanlah tambahan di Joglo Preschool Rumah Damai (Peace Place) Pati, melainkan fondasi penting bagi pembentukan karakter sejak usia dini. Kekerasan memiliki dampak yang menghancurkan pada kesejahteraan, pendidikan, dan perkembangan secara keseluruhan. Banyak orang dewasa telah mengalami kekerasan saat masih anak-anak. Melihat tindakan kekerasan yang terus berulang ini, komitmen untuk menghentikan kekerasan yang dimulai dari diri sendiri menjadi motivasi yang kuat untuk melakukannya.
Joglo Preschool didirikan untuk membangun lingkungan pendidikan yang merangkul anak-anak dan keluarga dengan kesadaran dan penghormatan terhadap keberagaman dalam upaya membantu keluarga mengatasi kekerasan dalam diri mereka, keluarga mereka, dan komunitas mereka. Kami bekerja untuk perubahan ini melalui pelatihan Alternatif untuk Kekerasan, pemulihan trauma, kekuatan kebaikan, serta kegiatan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini untuk menghentikan kekerasan dan menciptakan masyarakat yang adil dan damai. Perubahan ini dirasakan oleh keluarga-keluarga, dan oleh para terapis yang mendampingi mereka.
Kami berfokus pada membangun komunikasi aktif dengan orang tua dan keluarga. Hal ini dilakukan melalui praktik harian dan juga dalam sesi kelompok Parenting. Materi yang kami gunakan didasarkan pada Creating Culture of Justice and Peace (CCJP), tahap perkembangan, dan materi Re-evaluation Counseling. Pada akhir semester, kami bertemu untuk mempraktikkan kelompok pendamping yang baik. Setiap kelompok memilih salah satu topik berikut:
- Bagaimana saya mengalami kuasa yang mengubahkan dalam kehidupan pribadi dan publik?
- Distress apa yang perlu saya perhatikan, pelajari, dan lepaskan?
- Bagaimana cinta dan hati nurani membentuk dan membimbing hidup saya?
Awalnya beberapa orang tua mengatakan “Mohon maaf, saya tidak bisa berbicara”, tetapi setelah berada dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang, berbicara bergiliran masing-masing 5 menit, mereka bahkan merasa sulit untuk berhenti. Bahkan para ayah, yang terkadang dianggap acuh terhadap anak-anak mereka, sangat dekat dengan anak-anak mereka dan memperhatikan perkembangan mereka serta berusaha mendukung mereka. Aliran emosi dan grounding dilakukan di sela-sela aktivitas, dan juga di setiap kelompok sesuai kebutuhan. Dua orang tua membagikan hal berikut.
Kristiana: Saya sangat senang dengan kegiatan ini. Saya merasa didengar dan merasakan bagaimana cinta dan hati nurani membimbing saya untuk memahami anak saya. Dia kesulitan menyampaikan pikirannya. Sekarang saya lebih lembut dan membuat anak saya mampu menyampaikan apa yang dia inginkan atau menolak apa yang tidak dia inginkan. Perubahan yang terjadi pada saya membawa perubahan pada perkembangan anak saya. Saya bersyukur, menerima, dan mengakui kemampuannya.
Eko: Saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan Joglo. Saya merasa kami, sebagai sebuah keluarga, diterima, dicintai, dan diberdayakan. Cucu saya mengalami keterlambatan bicara dan putri saya, Dita (ibunya), memiliki hambatan wicara. Setiap hari Dita mengantarnya ke sekolah. Sesampainya di rumah, dengan menggunakan bahasa isyarat, Dita menceritakan kepada saya tentang aktivitas yang dilakukannya seperti ikut bergabung dengan anak-anak dalam lingkaran, membantu anak-anak menyiapkan mainan, dan berkomunikasi dengan anak-anak dan guru menggunakan bahasa isyarat. Ia merasa senang bisa terlibat. Dan saya melihat Dita lebih percaya diri dan bersemangat.
“Cinta, integritas, dan keadilan yang penuh belas kasih mengarahkan orang pada anugerah kehidupan ini”. Nadine Hoover.
Berlatih sesi Kelompok Pendamping dalam pertemuan orang tua Joglo.
