Pustakawan Perdamaian bersama Pendiri Guru Bumi
Nama saya adalah Ana Luthfiyatun Nadhifah, atau Anda bisa memanggil saya Nadhif. Saya berasal dari Pati, dan saat ini, saya adalah mentor untuk anak-anak di Paud Joglo (Sekolah Joglo), dan fasilitator magang untuk Power of Goodness di Peace Place Pati. Saya juga aktif sebagai relawan di Joglo Peace Library. Pengalaman ini telah membawa saya menyelami lebih dalam dunia buku anak dan perpustakaan anak, yang saya yakini berperan penting dalam perkembangan anak.
Saya menjadi tertarik untuk mengembangkan Joglo Peace Library karena saya menyadari pentingnya memilih kosakata dan ilustrasi secara cermat dalam buku-buku anak. Banyak perpustakaan masih mengabaikan buku-buku yang mengandung unsur kekerasan atau konten yang tidak sesuai dengan perkembangan anak. Di Peace Library, kami berkomitmen untuk memilih buku-buku yang aman, mendidik, dan menyenangkan. Selain itu, saya sangat senang membaca buku anak. Kegiatan ini memungkinkan saya terhubung dengan "inner child" saya, mungkin sosok yang dahulu tidak memiliki akses terhadap buku-buku berkualitas. Sungguh menyenangkan membaca berbagai cerita dengan pengetahuan yang dapat memperluas wawasan anak-anak!
Mengatasi Tantangan: Mengelola Perpustakaan Tanpa Latar Belakang Pustakawan
Terkadang, saya merasa terbatas oleh latar belakang saya karena saya bukan pustakawan terlatih. Namun, kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengelola perpustakaan ini, dan proses pembelajaran yang telah saya lalui, telah membantu saya merasa mampu mengatasi tantangan. Awalnya, saya gugup, tetapi sekarang saya merasa lebih siap menghadapi berbagai rintangan—bahkan yang pada awalnya tampak sulit. Rasa ingin tahu dan semangat belajar saya terus mendorong saya untuk berkembang, terutama dalam mengelola perpustakaan yang ramah anak.
Pada akhir Desember, saya mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Solo dan Yogyakarta. Di sana, saya mengunjungi berbagai perpustakaan dengan model pengelolaan yang berbeda-beda yang sangat menginspirasi. Kunjungan-kunjungan ini memberi saya banyak wawasan baru untuk mengelola Perpustakaan Perdamaian di Joglo.
Ratih, Nadhif, dan Mellia mengunjungi Perpustakaan Ganesa. Mereka belajar cara menata buku anak
Pelajaran dari Perpustakaan Lain: Pengalaman yang Mencerahkan
Kunjungan pertama saya adalah ke Perpustakaan Bocah Becik di Solo. Perpustakaan ini sangat mengandalkan anak-anak sebagai relawan. Mereka berperan sebagai pustakawan muda yang mengelola sirkulasi buku. Hal ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar bertanggung jawab, tetapi juga meningkatkan keterampilan menulis mereka dan membangun kepercayaan diri. Saya melihat langsung betapa bermanfaatnya melibatkan anak-anak dalam proses perpustakaan, dan ini menginspirasi saya untuk melibatkan lebih banyak anak di Peace Library.
Selanjutnya, saya mengunjungi Perpustakaan Ganesha, yang mengklasifikasikan buku menggunakan sistem sederhana dengan warna atau kode yang mereka buat sendiri. Metode ini sangat praktis dan mudah dipahami oleh anak-anak dan orang tua. Pengalaman ini memberi saya ide untuk menerapkan sistem serupa di Joglo Peace Library, yang akan memudahkan anak-anak menemukan buku sesuai kategori yang mereka minati dan yang sesuai untuk mereka.
Saya juga mengunjungi Perpustakaan Teras Kita di Surakarta. Di sini, perpustakaan memprioritaskan kenyamanan penggunanya dan menarik perhatian anak-anak melalui kegiatan bermain. Selain klasifikasi buku, mereka menekankan penciptaan ruang yang mendukung perkembangan sosial anak. Menariknya, mereka memiliki pustakawan muda yang secara sukarela mengajak teman sebayanya datang untuk bermain dan membaca. Hal ini menginspirasi saya untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan ramah bagi anak-anak di perpustakaan kami.
Dari Pengalaman ke Implementasi: Membangun Perpustakaan Perdamaian yang Ramah Anak
Di Peace Library, kami juga menerapkan konsep permakultur untuk menjaga kelembapan buku secara alami, menggunakan bahan-bahan seperti gaharu dan cengkih. Kami percaya bahan-bahan alami ini lebih ramah lingkungan dan lebih aman bagi anak-anak. Selain itu, kami menerapkan metode klasifikasi buku yang sederhana, seperti menggunakan warna atau kode yang mudah dipahami anak-anak, sehingga mereka dapat dengan mudah menemukan buku yang menarik minat mereka.
Pengalaman di Perpustakaan Ganesha juga memberi saya wawasan tentang penerjemahan buku. Awalnya saya khawatir apakah penerjemahan akan mengganggu ilustrasi, dan setelah berdiskusi, kami memahami bahwa penerjemahan memerlukan pertimbangan yang cermat. Kita perlu memperhatikan ruang yang tersedia, menggunakan font yang mudah dibaca anak-anak, dan memilih warna kertas yang sesuai agar buku tetap menarik dan mudah dipahami.
Menginspirasi Perubahan: Langkah Selanjutnya
Dari pengalaman-pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa siapa pun dapat mendirikan perpustakaan, bahkan dari hobi mengoleksi buku. Anda tidak perlu pelatihan resmi sebagai pustakawan untuk berbagi pengetahuan dan mendukung perkembangan anak melalui literasi. Ini adalah pelajaran penting yang saya bawa pulang dari perjalanan saya—bahwa dengan niat yang kuat dan keinginan untuk belajar, kita semua dapat membuat perubahan.
Langkah selanjutnya adalah berani membagikan ide-ide kita, mendukung pengembangan diri, dan memberikan kontribusi positif kepada komunitas. Yang paling penting adalah “lakukan saja”—mulailah dengan langkah kecil dan lihat bagaimana perubahan itu memberikan dampak besar bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Nadhif dan Mellia mengunjungi Radyapustaka, perpustakaan naskah kuno di Surakarta. Mereka mempelajari cara melestarikan naskah kuno dengan bahan-bahan alami
