Ahmad Aghus memfasilitasi latihan Berdiri di Garis

Kekerasan remaja di Indonesia menjadi kekhawatiran yang terus meningkat, dengan insiden-insiden terbaru di Semarang dan Yogyakarta yang menunjukkan kebutuhan mendesak akan solusi berkelanjutan. Sebagai respons, Peace Place Pati, pelopor dalam pembangunan perdamaian dan pendidikan, menyelenggarakan pelatihan Alternatif untuk Proyek Kekerasan (AVP) yang transformatif. Program ini memberdayakan calon fasilitator untuk mempromosikan perdamaian dan rekonsiliasi di komunitas mereka melalui pendekatan inovatif yang berbasis trauma.

Pada pertengahan 2024, Semarang menyaksikan lebih dari 80 insiden kekerasan yang melibatkan anggota geng remaja, sehingga mendorong pihak berwenang memberlakukan jam malam dan melakukan patroli malam. Serupa dengan itu, ketegangan etnis di Yogyakarta meletus menjadi kerusuhan, memperburuk rasa saling tidak percaya antarkelompok. Insiden-insiden ini menyoroti pentingnya program pendidikan perdamaian yang melampaui upaya tradisional berbasis sekolah dan melibatkan generasi muda secara langsung di komunitas mereka.

Metodologi AVP Keadilan dan Perdamaian, yang dipraktikkan oleh Peace Place Pati sejak 2011, menekankan kolaborasi, empati, dan tujuan bersama. Berakar pada prinsip-prinsip tanpa kekerasan dan inklusivitas, lokakarya AVP Keadilan dan Perdamaian menawarkan lingkungan yang aman bagi para peserta untuk mengeksplorasi teknik-teknik penyelesaian konflik dan membangun hubungan yang bermakna. Melalui kegiatan-kegiatan yang mendorong kepercayaan dan pemahaman, para peserta belajar untuk membongkar siklus kekerasan dan menumbuhkan perdamaian positif.

Didirikan pada tahun 2011 oleh Petrus dan Nanik, Peace Place Pati telah menjadi pusat penting bagi inisiatif AVP di Indonesia. Pusat ini, yang mencakup aula pelatihan, prasekolah Joglo, dan perpustakaan perdamaian, telah memperluas pengaruhnya ke seluruh negeri. Selain pelatihan AVP, Peace Place Pati mengembangkan kurikulum inovatif yang mengintegrasikan prinsip perdamaian, keadilan, dan ramah disabilitas ke dalam pendidikan anak usia dini. Perpustakaan perdamaiannya di Surakarta, Pati, dan Papua semakin memperkaya komunitas dengan alat untuk pembelajaran dan rekonsiliasi. Para alumni Peace Place Pati telah menjalankan kegiatan pembangunan perdamaian di seluruh Indonesia, menyebarkan metodologi berdampaknya ke berbagai wilayah.

Pengalaman Pelatihan yang Unik

Lokakarya Keadilan dan Perdamaian AVP selama tiga hari baru-baru ini diadakan di Wisata Edukasi Kopi D’Kenji, yang terletak di pegunungan Muria yang asri, Jawa Tengah. Tempat ramah lingkungan ini, yang dikenal karena komitmennya terhadap pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat, menyediakan latar belakang yang ideal untuk pelatihan tersebut. Para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan fasilitasi tetapi juga belajar dari praktik-praktik inspiratif tempat ini dalam ketahanan lingkungan dan sosial.

Pelatihan yang dipimpin oleh tiga fasilitator inti berpengalaman ini memperkenalkan 11 fasilitator magang pada seluk-beluk fasilitasi AVP Keadilan dan Perdamaian. Program ini menampilkan praktik langsung, pendampingan, dan diskusi yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri dan kompetensi. Para peserta terlibat dalam:

  • Fasilitasi Latihan: Fasilitator intern memimpin sesi dengan umpan balik waktu nyata dari mentor.
  • Pengembangan Keterampilan: Modul mencakup pembangunan tim, manajemen waktu, kecerdasan emosional, dan penyesuaian fasilitasi untuk audiens yang beragam.
  • Diskusi Reflektif: Sesi debrief pasca-sesi memungkinkan para fasilitator untuk menganalisis kinerja mereka dan berbagi wawasan.

Tuan Rumah dan Penyewa. 2 November 2024, di Wisata Kopi D’Kenzi. Foto: Nanik

Fasilitator magang datang dari latar belakang yang beragam, termasuk mahasiswa, guru prasekolah, dan pekerja perdamaian komunitas. Mewakili berbagai etnis, agama, dan daerah, keberagaman mereka memperkaya pelatihan dengan perspektif dan pengalaman yang unik. Dengan menekankan inklusivitas, lokakarya tersebut menjadi contoh prinsip-prinsip pembangunan perdamaian yang ingin ditanamkannya.

Para peserta menghadapi tantangan seperti mengelola audiens yang besar, menyesuaikan instruksi untuk konteks yang berbeda, dan mengatasi rasa gugup. Hambatan-hambatan ini diatasi melalui pendampingan yang disesuaikan, latihan bermain peran, dan klinik tim. Para fasilitator mempraktikkan strategi seperti pembagian kelompok untuk pengelolaan audiens dan penggunaan instruksi yang ringkas dan jelas.

Dampak Langsung di Masyarakat

Keberhasilan pelatihan itu terlihat jelas ketika para fasilitator yang baru dilatih dengan cepat menyelenggarakan lokakarya di komunitas mereka:

  • Di Pati: Guru-guru prasekolah bekerja sama dengan Tomodachi, komunitas literasi lokal, untuk menyelenggarakan lokakarya mendongeng, Power of Goodness di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati.
  • Di Semarang: Mahasiswa memimpin lokakarya “Power of Goodness” untuk teman-teman mereka.
  • Di Yogyakarta: Fasilitator mengadakan sesi untuk organisasi mahasiswa dan publik, mendorong dialog tentang perdamaian dan rekonsiliasi.

Lokakarya-lokakarya ini menjangkau peserta dari berbagai kelompok usia dan konteks, yang menegaskan kemampuan adaptasi metode AVP Justice and Peace. Para peserta melaporkan pertumbuhan yang signifikan dalam keterampilan manajemen konflik, regulasi diri emosional, dan mendengarkan secara aktif. Pendampingan dan diskusi reflektif terbukti sangat berharga, meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan fasilitator untuk memimpin. Di luar keterampilan teknis, program ini menumbuhkan rasa tujuan, dengan banyak fasilitator menyatakan komitmen untuk menyebarkan pendidikan perdamaian di komunitas mereka.

Pelatihan Keadilan dan Perdamaian AVP Peace Place Pati merupakan contoh bagaimana inisiatif akar rumput dapat menangani masalah sistemik seperti kekerasan remaja. Dengan membekali para fasilitator dengan alat praktis dan menumbuhkan budaya empati dan kolaborasi, program ini berkontribusi pada masyarakat yang lebih harmonis.

Pembangunan perdamaian membutuhkan orang-orang yang bersedia mendengarkan, belajar, dan bertindak. Jika Anda ingin berpartisipasi dalam atau mendukung pekerjaan Peace Place Pati, hubungi Peace Place Pati. Dengan keterlibatan Anda, lebih banyak komunitas dapat mengakses alat yang mereka butuhkan untuk membangun kepercayaan, menyelesaikan konflik, dan menciptakan masyarakat yang lebih adil.

Ario dan Ahmad Salahudin, Presentasi: menganalisis kisah-kisah nonkekerasan untuk titik baliknya. 2 November 2024. Wisata Kopi D’Kenzi Gunung Muria.. Foto:Petrus