Sopia, Yumna, dan Samea mengamati ayam, boneka, dan sepeda sebagai properti dalam cerita itu

Dalam pelaksanaan kegiatan Power of Goodness, tim kami mengangkat tema kejujuran melalui cerita "Anna and The Speckled Hen." Cerita ini dipilih karena menyajikan nilai moral yang sederhana namun kuat yang sangat relevan bagi anak-anak kecil. Melalui tokoh Anna, anak-anak diajak untuk memahami makna kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, terutama keberanian untuk melakukan hal yang benar bahkan dalam situasi yang sulit. Dalam cerita tersebut, Anna menemukan sebuah telur yang bukan miliknya dan memilih untuk mengembalikannya kepada pemilik yang sah. Keputusan sederhana ini menjadi inti pelajaran, menunjukkan bahwa kejujuran sering kali muncul dalam tindakan kecil namun membawa makna yang signifikan.

Untuk memastikan bahwa cerita tidak hanya dipahami secara verbal, saya dan tim menyiapkan berbagai alat peraga sebagai media visual, seperti telur ayam, boneka ayam, boneka manusia, selendang, dan sepeda. Penggunaan alat peraga ini membantu anak-anak memvisualisasikan situasi dalam cerita secara lebih konkret. Selama sesi bercerita, anak-anak tampak antusias dan fokus mengikuti alur cerita. Ekspresi wajah dan respons mereka mencerminkan keterlibatan emosional dengan pengalaman Anna.

Setelah cerita dibacakan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Kami mengajukan pertanyaan pemandu: “Mengapa Anna mengembalikan telur itu?” Pertanyaan ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengungkapkan pemahaman mereka tentang kejujuran. Sebagian besar anak menjawab, “Karena telur itu bukan miliknya.” Ini menunjukkan bahwa mereka memahami konsep dasar kepemilikan dan batas antara barang pribadi dan milik orang lain. Leandra menambahkan bahwa Anna mengembalikan telur itu karena ia takut ibunya mungkin akan kecewa jika ia mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sementara itu, Allegra memberikan jawaban yang lebih mendalam, menjelaskan bahwa jika telur itu diambil, pemilik ayam itu mungkin akan kelaparan. Ini menunjukkan munculnya empati dan kemampuan untuk mengenali dampak tindakan seseorang terhadap orang lain. Pada titik ini, cerita itu bukan lagi sekadar tentang seekor telur, melainkan tentang perkembangan kesadaran moral dalam diri anak-anak.

Pengalaman belajar semakin diperkuat melalui kegiatan bermain peran, di mana anak-anak memerankan kembali adegan-adegan dari cerita tersebut. Mereka berbagi peran sebagai Anna, pemilik telur, dan bahkan ayam betina. Dengan properti tambahan seperti peralatan masak mainan dan barang-barang pasar sederhana, setiap anak mendapat kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif. Melalui proses bermain peran ini, anak-anak tidak hanya mengingat kembali alur cerita tetapi juga langsung mengalami situasi yang menuntut pilihan jujur. Momen ini menegaskan bahwa nilai yang dipelajari telah berpindah dari tahap mendengarkan ke tahap melakukan.

Kegiatan ini selaras dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, yang menyatakan bahwa anak usia 4–6 tahun berada pada tahap praoperasional. Pada tahap ini, anak berpikir secara konkret dan simbolis, sehingga memerlukan objek nyata dan pengalaman langsung untuk memahami suatu konsep secara utuh. Melalui penggunaan properti dan bermain peran, konsep kejujuran yang sebelumnya abstrak menjadi pengalaman konkret yang dapat dirasakan dan diperankan oleh anak-anak. Proses ini mendukung perkembangan pemahaman moral secara bertahap sesuai dengan tahap pertumbuhan mereka.

Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar sesi mendongeng; ini adalah proses pembelajaran yang holistik. Anak-anak tidak hanya memahami bahwa kejujuran itu penting, tetapi mereka juga mengamatinya, mendiskusikannya, dan mempraktikkannya melalui tindakan yang bermakna. Dari satu cerita sederhana tentang Anna, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kepemilikan, dan empati. Dengan demikian, “Anna dan Ayam Belang” tidak hanya menjadi cerita yang didengar di kelas, tetapi menjadi pengalaman belajar yang hidup dan berkesan dalam pembentukan karakter mereka.

Anak lainnya berperan sebagai penjual makanan

Anna (diperankan oleh Mahija) mengendarai sepedanya ke rumah pemilik ayam.