Nama saya Muhammad Altof Bastman, sering dipanggil Altof atau Tois. Saya berusia 23 tahun. Orang tua saya berasal dari latar belakang etnis yang berbeda – ibu saya orang Jawa dan ayah saya dari suku Bima di Nusa Tenggara Barat. Mereka bertemu dan menikah di Flores, Nusa Tenggara Timur, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.
Flores adalah tempat yang kaya akan keindahan alam – hutan yang lebat, gunung yang tinggi, sawah yang hijau, dan pantai yang memukau. Masa kecil saya dipenuhi dengan aktivitas di luar ruangan: menangkap ikan, bermain sepak bola di tepi laut, dan menonton matahari terbenam. Itu adalah masa pengasuhan yang menyenangkan dan penuh dengan alam.
Saya tumbuh di lingkungan yang pluralistik, dikelilingi oleh teman-teman dari berbagai keyakinan dan latar belakang. Sejak usia dini, saya diajarkan untuk menghormati dan menghargai perbedaan. Lingkungan ini membentuk keyakinan saya bahwa masyarakat yang harmonis dan adil hanya dapat dibangun melalui saling pengertian dan penerimaan. Seperti yang sering saya katakan, "Perbedaan itu seperti pelangi – indah karena banyak warnanya."
Saat ini saya tinggal di Yogyakarta, menempuh studi Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Di kelas, kami mengeksplorasi gagasan para pemikir seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali. Salah satu tokoh yang sangat menginspirasi yang kami pelajari adalah Asghar Ali Engineer, (ya, itu memang namanya) seorang pemikir India revolusioner yang dikenal dengan konsep Teologi Pembebasan. Fokusnya adalah membuat teologi lebih membumi dan bermanfaat bagi kemanusiaan, terutama bagi yang tertindas. Hal ini saya rasa sejalan dengan visi Friends Peace Teams: membangun keadilan, perdamaian, dan melindungi kaum rentan dari penindasan dan korupsi.
Di luar bidang akademik, saya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), inisiatif lintas agama, dan proyek pemberdayaan masyarakat. Bersama rekan-rekan anggota, kami mengadakan diskusi, bedah buku, dan melakukan kegiatan penyuluhan yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Tujuan kami adalah menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan tumbuh sebagai individu yang berkontribusi positif bagi manusia dan alam.
Mengikuti pelatihan dasar Alternatif Kekerasan (Alternatives to Violence Project) di Pati menjadi titik balik bagi saya. Pelatihan itu membangkitkan kesadaran saya akan kemungkinan nyata adanya perdamaian dan keadilan. Sejak itu, saya memperkenalkan nilai-nilai perdamaian kepada teman-teman di organisasi saya, di kampus, dan di lingkungan keluarga saya. Saya membagikan apa yang saya pelajari dari pelatihan tersebut dan dampak pribadinya bagi saya. Perlahan-lahan, saya mengintegrasikan lokakarya mini PoG (Power of Goodness) ke dalam program-program organisasi kami.
Dengan dukungan dari rekan-rekan saya, kami berhasil memasukkan PoG ke dalam kurikulum pelatihan kader kami di Fakultas Ushuluddin, HMI di UIN Sunan Kalijaga. Sambutannya sangat positif, dan kegiatan-kegiatan pembangunan perdamaian ini telah menjadi bagian rutin dari pengembangan internal kami, serta mendapat dukungan kuat dari para anggota. Kami berkomitmen untuk menumbuhkan budaya damai di Yogyakarta karena kami percaya hal itu sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan harmonis.
Perjalanan saya – dari akar keluarga saya, hingga persahabatan di Yogyakarta, dan keterlibatan saya dengan Friends Peace Teams – telah memberi hidup saya makna yang mendalam dan harapan untuk masa depan. Saya telah belajar nilai hubungan yang bermakna dan pentingnya berkontribusi pada dunia yang adil dan damai.
Yang membuat saya merasa seperti sahabat sejati Friends Peace Teams adalah lingkungan yang inklusif dan suportif. Di sini, saya merasa dilihat, dihargai, dan didorong. Orang-orang yang saya temui telah membantu saya tumbuh dalam kepercayaan diri dan merasa menjadi bagian dari keluarga kedua – selalu ada untuk membimbing, mendengarkan, dan mendukung. Komunitas ini adalah ruang yang kuat di mana saya terus belajar untuk menghidupi nilai-nilai perdamaian dan keadilan.
Juni 2025
Memimpin permainan selimut dengan ringan dan meriah
Melakukan menggambar diri inti dengan beberapa mahasiswa di Jogjakarta
