Bayu dan Aijas. Joglo Prasekolah di Peace place Pati, Jawa Tengah Indonesia. Juli 2025. Foto : Nanik

Masa magang dari 16 Juni hingga 10 Agustus memberi saya pengalaman yang bermakna. Saya terlibat dalam banyak kegiatan yang berbeda. Magang ini juga menyediakan ruang untuk berlatih dan mencoba hal-hal baru di luar apa yang biasanya saya pelajari di universitas. Lebih dari sekadar kerja praktik, perjalanan ini mengubah cara saya memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitar saya. Saya menemukan bahwa pengalaman langsung mengajarkan lebih mendalam daripada sekadar membaca atau mendengarkan. Setiap momen—baik yang lancar maupun yang penuh tantangan—menjadi kesempatan untuk tumbuh dalam keterampilan, sikap, dan cara berpikir.

Belajar Bersama Anak-Anak Joglo

Salah satu pengalaman yang saya alami adalah belajar bagaimana berinteraksi dengan anak-anak di Joglo. Saya menyadari bahwa menggunakan kata-kata yang tepat dan sederhana sangat membantu anak-anak memahami dengan lebih baik. Ketika seorang anak menangis atau menolak melanjutkan suatu aktivitas, saya belajar untuk lebih sabar dan memberi mereka sedikit waktu sebelum mengajak mereka kembali ke aktivitas tersebut. Kesabaran ini tidak hanya berguna selama magang, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari saya.

Pelatihan Keadilan dan Perdamaian Regional (RJPT): Melepaskan Emosi dan Berbagi Perspektif

Program magang ini juga memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan RJPT (Regional Justice and Peace Training). Dari sini, saya memahami bahwa mendampingi seseorang dalam melepaskan emosi memerlukan empati, mendengarkan dengan cermat, dan hadir dengan sepenuh hati. Saya juga menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris saya meningkat karena saya berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara yang berbeda. Hal ini memberi saya kepercayaan diri yang lebih besar dalam berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Melalui interaksi yang sering dengan orang-orang dari latar belakang dan budaya yang berbeda, saya memperoleh perspektif baru tentang masalah. Seorang aktivis, teman yang saya temui, memberi tahu saya bahwa untuk menjadi seorang aktivis, Anda harus memiliki keyakinan sendiri—sesuatu yang benar-benar Anda yakini benar dan layak diperjuangkan—bukan hanya gagasan orang lain.

Saya sekarang mulai lebih fokus pada sisi positif dalam diri saya. Dulu, saya sering memiliki pikiran negatif tentang diri sendiri, tetapi melalui proses pelatihan ini saya belajar melihat hal baik dalam diri saya dan orang lain. Saya juga merasakan pentingnya kerja sama ketika mengerjakan sesuatu bersama-sama. Agar kerja tim berhasil, kita perlu saling memahami melalui komunikasi yang jelas dan penuh hormat.

Belajar Menerjemahkan Buku Anak

Dari pengalaman menerjemahkan, saya menyadari bahwa bahasa bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga makna dan pengalaman pembaca. Saya berlatih menerjemahkan kata-kata sulit dan mencari sinonim yang lebih mudah agar anak-anak dapat memahaminya dengan baik. Bahkan detail kecil seperti memilih jenis huruf dan ukuran huruf yang tepat menjadi penting, terutama saat mengerjakan buku anak-anak. Saya juga memahami bahwa penekanan dalam bahasa sumber—misalnya kata yang dicetak tebal—harus dipertahankan dalam terjemahan agar nuansanya tidak hilang. Dari sini, saya melatih diri saya dalam ketelitian dan kepekaan.

Kekuatan Kebaikan (PoG): Mengembangkan Peran Saya sebagai Fasilitator

Dalam program PoG (Power of Goodness), saya memiliki pengalaman berinteraksi dengan para peserta, terutama anak-anak. Tidak semua anak merasa percaya diri untuk bergabung dalam diskusi, dan di situlah saya belajar bagaimana mendorong partisipasi mereka dengan berbagai cara. Saya juga berlatih mengambil peran sebagai fasilitator, mulai dari menyiapkan pertanyaan diskusi hingga memilih permainan yang sesuai dengan tema. Dalam sesi PoG saya juga belajar menjelaskan makna di balik setiap permainan agar peserta tidak hanya menikmati permainan tetapi juga memahami nilai-nilai dalam setiap permainan.

Mengapa Pengalaman Ini Penting

Magang bukan hanya tentang apa yang saya lakukan, tetapi tentang bagaimana proses itu mengubah saya. Saya belajar kesabaran, empati, kerja sama, berpikir positif, komunikasi, dan juga mengasah keterampilan praktis seperti penerjemahan dan fasilitasi. Pengalaman ini layak dibagikan karena melalui pengalaman ini saya menjadi lebih menghargai diri sendiri, memperoleh perspektif yang lebih luas dari pertemanan yang beragam, dan menumbuhkan nilai-nilai perdamaian yang akan berguna bagi masa depan saya dan bagi masyarakat di sekitar saya.

Bayu-Kaus hitam – permainan Blanket, RJPT 2025 di Peace place Pati, Jawa Tengah Indonesia. Foto : Nanik